ALI Optimistis Industri Rantai Pasok & Logistik Indonesia 2025, Masih Cerah
Ahmad Mabrori
Logistiknews.id
2025-01-23
LOGISTIKNEWS.ID- Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memprediksi, skenario moderat yang mungkin terjadi pada pertumbuhan bisnis Rantai Pasok dan Logistik di Indonesia tahun 2025, yakni diangka 7-10%.
Tahun 2025 juga akan menjadi momentum penting bagi industri rantai pasok dan logistik Indonesia. Bahkan trend pertumbuhan bisnis, inovasi teknologi saat ini juga akan mendorong sektor ini ke arah yang lebih maju.
Disisi lain, E-commerce dan sektor manufaktur masih menjadi penggerak utama, sementara potensi kawasan baru seperti IKN dan wilayah timur Indonesia menciptakan peluang yang menjanjikan, kemudian program program strategis pemerintah seperti hilirisasi komoditas sektor strategis dan Rantai Pasok dan Logistik Halal akan menjadi salah satu faktor pendorong industri rantai pasok dan logistik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Riyanto, saat menjabarkan Outlook Rantai Pasok dan Logistik Indonesia 2025, yang dilaksanakan di Jakarta pada Kamis (23/1/2025).
Pada kesempatan itu, Mahendra di dampingi Ketua Dewan Pakar ALI Nofrisel, Pegiat E-Commerce Hadi Kuncoro, dan Pegiat Industri Fast Food Adithya Sari.
ALI berpandangan berdasarkan hasil analisis proyeksi perekonomian Indonesia yang akan tumbuh sebesar 5-5,1 (BPS 2025), serta proyeksi volume ekspor Indonesia sebesar 7,1 (Kementerian Perdagangan 2025) dan pertumbuhan sektor usaha transportasi dan pergudangan sebesar 9.11% ( BPS Q4 2024).
“Dalam teropong ALI, setiap perkembangan nilai perdagangan, maka terkandung pula perkembangan volume pergerakan barang nya. Sehingga ALI memprediksi, skenario yang mungkin terjadi adalah skenario moderat, yaitu pertumbuhan bisnis Rantai Pasok dan Logistik di Indonesia tahun 2025 diangka 7-10%,” ungkap Mahendra.
Menurutnya, dengan menerapkan langkah yang tepat, industri rantai pasok dan logistik di Indonesia akan terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional dan memperkuat posisinya di pasar global.
Sebab, kata dia, Industri rantai pasok dan logistik (supply chain) memainkan peran strategis dalam mendukung roda perekonomian nasional. Sebagai tulang punggung rantai pasok, sektor ini menghubungkan produsen, distributor, dan konsumen di berbagai wilayah, baik domestik maupun internasional.
“Dalam konteks Indonesia, yang merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, logistik memegang peranan kunci dalam memastikan distribusi barang yang efisien dan merata di seluruh nusantara,” ujar Mahendra Riyanto.
Dia memaparkan, kontribusi sektor rantai pasok dan logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Bahkan, imbuhnya, data menunjukkan bahwa sektor transportasi dan pergudangan, yang menjadi inti dari logistik, memberikan sumbangan sebesar 5-7% ( BPS 2024) terhadap total PDB. Potensi ini semakin besar dengan berkembangnya sektor e-commerce, yang diprediksi terus bertumbuh setiap tahunnya, mendorong permintaan akan jasa logistik yang lebih cepat dan efisien.
Selain itu, pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi logistik sebagai salah satu pilar penting dalam meningkatkan daya saing global. Bahkan, proyek infrastruktur berskala besar seperti pembangunan jalan tol, pelabuhan, dan bandara baru dirancang untuk memangkas biaya logistik yang saat ini masih tinggi, yakni mencapai 14,29% dari PDB – masih tinggi di atas rata-rata global yang berkisar 8-10%.
“Karenanya kami mendorong pembangunan infrastruktur pendukung konektivitas di pelabuhan, bandara dan antar wilayah yang terintegrasi serta medukung antar moda transportasi terjadi salah satu faktor utama dalam mendukung target penurunan biaya logistik 8% pada tahun 2045,” ucap Mahendra.
Daya Saing
Dia menambahkan, dengan peran strategis dan kontribusi yang besar ini, industri rantai pasok dan logistik di Indonesia tidak hanya menjadi penggerak ekonomi nasional, tetapi juga kunci untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Sebab, kata Mahendra, transformasi digital dan kolaborasi lintas sektor akan menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan di tahun 2025 serta mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 % pada tahun 2028-2029.
ALI juga melihat bahwa dinamika perdagangan global yang terus berkembang membuat ketahanan rantai pasokan menjadi faktor penting dan menjadi perhatian serius.
Mahendra mengatakan, pasca pandemi, bisnis harus bersiap menghadapi gangguan dengan mengidentifikasi tantangan utama dan membangun strategi untuk menavigasi ketidakpastian.
Pengaruh Geopolitik
Menurutnya, lanskap geopolitik tetap menjadi faktor signifikan yang memengaruhi rantai pasokan global. Konflik Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung diperkirakan akan terus memengaruhi perdagangan, dengan sanksi terhadap Rusia kemungkinan akan tetap berlaku.
Belum ada gencatan senjata resmi yang dicapai dan negosiasi antara kedua belah pihak tersebut menghadapi kendala yang cukup besar. Sanksi akan terus menargetkan bahan-bahan yang diproduksi Rusia, seperti gas, bahan bakar, dan pasokan energi lainnya.
Sementara itu, kata Mahendra, meskipun Israel-Hamas telah melakukan gencatan senjata, wilayah Laut Merah terus mengalami ketidakstabilan, yang menyebabkan jalur pelayaran menghindari Terusan Suez.
Akibatnya, operator mempertahankan layanan yang dialihkan melalui Tanjung Harapan, praktik yang akan terus berlanjut di masa mendatang. Penyesuaian ini menambah waktu dan biaya pengiriman, tetapi tetap diperlukan mengingat masalah keamanan di wilayah tersebut.
“Karenanya, bisnis yang beroperasi secara internasional harus tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik ini. Kemampuan untuk beradaptasi dengan gangguan dan menyesuaikan strategi untuk mengamankan rute alternatif sangat penting untuk menjaga integritas dan tingkat kepastian rantai pasokan dalam situasi yang tidak stabil ini,” papar Mahendra.
Hal lain yang mempengaruhi adalah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) meningkatkan kekhawatiran terhadap ketidakpastian ekonomi pada 2025. Salah satunya perang dagang antara AS dan China yang sempat memanas pula kala Trump memimpin 2017-2021.
Kecemasan ini diperkirakan bakal berlanjut pada tahun 2025 dengan adanya kebijakan proteksionis dan tarif perdagangan, yang akan diberlakukan Donald Trump dapat memiliki konsekuensi ekonomi di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Kemudian, prospek pajak yang lebih tinggi yang diberlakukan pada impor ke AS , mengkhawatirkan banyak pemimpin dunia karena kebijakan yang proteksionis itu akan membuat produk impor nya lebih mahal produk domestic AS.
“Bank Dunia mengproyeksikan kenaikan 10% atau lebih tarif AS atas impor dari setiap negara, akan mengurangi pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% dan juga ketidakseimbangan lalu lintas Barang yang akhirnya akan menyebabkan harga Ocean Freight melonjak,” ucap Mahendra.
Selain geopolitik, perubahan iklim terus menjadi tantangan bagi rantai pasokan, meskipun ada prediksi dampak yang lebih ringan pada tahun 2025 akibat pola cuaca La Niña.
Mahendra mengatakan, meningkatnya suhu global dan semakin seringnya kejadian cuaca ekstrem mengganggu rute transportasi, merusak infrastruktur, dan semakin seringnya kejadian cuaca ekstrem mengganggu rute transportasi, merusak infrastruktur, dan mengurangi ketersediaan bahan baku penting .
Guna memitigasi risiko ini, praktik berkelanjutan, seperti mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi energi, dapat lebih memperkuat ketahanan rantai pasokan.
Dengan mengadopsi inisiatif ramah lingkungan kepada industiri-industri, juga selaras dengan tuntutan regulasi yang semakin meningkat terkait tanggung jawab lingkungan.
“Langkah-langkah proaktif untuk mengatasi risiko terkait iklim tidak lagi menjadi pilihan. Perusahaan yang gagal beradaptasi, berisiko tertinggal dalam persaingan pasar global,” ujar Mahendra.
Supply Chain Risk Management
Risiko rantai pasok termasuk kategori risiko yang sering terjadi dan tentunya memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja perusahaan, oleh karena itu pengelolaan Supply Chain Risk Management sangat penting untuk diimplementasikan.
Pengelolaan risiko ini bertujuan untuk mengurangi dampak dan tingkat keterjadiaan untuk memastikan keberlangsungan usaha suatu perusahaan.
Untuk itu ALI berpandangan, bahwa digitalisasi dan Teknologi Transformasi digital menjadi pilar utama dalam pengembangan rantai pasok dan logstik global.
Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Big Data telah mengubah cara perusahaan logistik beroperasi. AI digunakan untuk memprediksi permintaan, mengoptimalkan rute pengiriman, dan meningkatkan manajemen inventory sehingga lebih akurat dan pasti.
IoT memungkinkan pemantauan real-time atas kondisi barang selama pengiriman, memastikan transparansi dan keamanan.
Big Data, di sisi lain, memberikan wawasan mendalam tentang pola konsumsi, membantu perusahaan menyesuaikan layanan sesuai kebutuhan pasar (Demand Creation).
“Otomatisasi juga menjadi faktor penting, dengan penggunaan teknologi seperti robotika di gudang untuk mempercepat proses penyortiran dan pengemasan barang. Inovasi ini meningkatkan efisiensi operasional, menekan biaya, dan mempercepat waktu pengiriman,” ucap Mahendra.
Regulasi
Ketua Dewan Pakar ALI, Nofrisel menambahkan, regulasi dan kebijakan Pemerintah merupakan salah satu tantangan besar di rantai pasok dan logstik Indonesia adalah kompleksitas regulasi dan kebijakan pemerintah.
“Kendala birokrasi, seperti proses perizinan yang lambat dan tumpang tindih antarinstansi, memperlambat operasional logistik. Selain itu, kebijakan perpajakan yang kurang fleksibel seringkali menjadi beban bagi pelaku usaha, terutama bagi UMKM yang ingin memanfaatkan layanan logistik modern,” ujar Nofrisel.
Dia menegaskan, Pemerintah memegang peran penting dalam menciptakan ekosistem logistik yang lebih kompetitif. Karenanya, simplifikasi regulasi, penerapan sistem digital untuk perizinan, dan harmonisasi kebijakan antarinstansi menjadi langkah penting yang harus dilakukan.
“Selain itu, peningkatan efisiensi dalam pemanfaatan infrastruktur logistik yang sudah ada, juga diperlukan untuk mendukung pengembangan industri ini,” ujar Nofrisel.[am]
Sumber Berita :
https://www.logistiknews.id/2025/01/23/ali-optimistis-industri-rantai-pasok-logistik-indonesia-2025-masih-cerah/Berita Terbaru
Kementerian PU Pastikan Seluruh Jalur Logistik Utama di Sumatra Sudah Pulih
2026-01-18
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan seluruh konektivitas jalan dan jembatan nasional di wilayah terdampak bencana Sumatera kini telah kembali fungsional sejak 15 Januari 2026 di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menteri PU, Dody Hanggodo menyatakan bahwa pemulihan akses ini merupakan hasil kerja cepat balai-balai teknis di daerah sejak hari pertama bencana terjadi. Fokus utama dalam fase tanggap darurat adalah menjamin kelancaran arus logistik, khususnya distribusi pangan, BBM, dan LPG. “Alhamdulillah, per hari ini sudah tidak ada lagi daerah yang benar-benar terisolasi. Seluruh jembatan nasional yang terdampak kini telah fungsional kembali, sehingga konektivitas antarwilayah utama di Sumatera telah tersambung,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (17/1/2026). Dody menjelaskan, Kementerian PU mengerahkan kekuatan penuh dengan menyalurkan 1.854 alat berat dan 467 sarana pendukung ke tiga provinsi tersebut. Setelah jalur utama pulih, fokus pengerjaan kini digeser untuk membuka akses ke tingkat kecamatan dan desa-desa yang masih terhambat. Hingga saat ini, Kementerian PU juga masih melakukan pembersihan di 105 lokasi kawasan bencana. Dari jumlah tersebut, sebanyak 40 lokasi telah selesai ditangani, 63 lokasi dalam proses pengerjaan, dan 2 lokasi dalam tahap persiapan. Selain infrastruktur jalan, Kementerian PU juga mulai menyentuh fasilitas publik lainnya. Sebanyak 2 puskesmas di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Tenggara dijadwalkan akan segera menjalani proses pembersihan dan relokasi guna memulihkan layanan kesehatan masyarakat. Untuk penanganan pengungsi, kementerian telah menyiapkan 1.209 unit hunian sementara (huntara) yang tersebar di wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan agar masyarakat yang kehilangan tempat tinggal memiliki hunian yang lebih layak selama masa pemulihan. Dody menegaskan, koordinasi dengan BNPB, kementerian terkait, TNI/Polri, serta pemerintah daerah terus diperkuat untuk mempercepat pemulihan aktivitas sosial ekonomi. Pihaknya menyadari data kerusakan infrastruktur daerah masih terus bertambah seiring terbukanya akses ke pelosok. “Kita upayakan hadir secepat mungkin di setiap titik bencana. Pendataan terus berjalan dan penanganan akan dilakukan secara bertahap untuk mendukung mobilitas masyarakat kembali normal,” pungkasnya.
👁️ 69 kali
Perusahaan Pos Asia Tenggara Kaji Penerapan Tarif Tunggal Jasa Logistik
2026-01-13
Bisnis.com, JAKARTA — Pos Indonesia bersama dengan perusahaan pos lainnya di Asia Tenggara mendorong inisiatif tarif tunggal (single tarif) pengiriman pos di kawasan Asia Tenggara sebagai langkah strategis untuk memperkuat integrasi logistik regional. Inisiatif tersebut menjadi salah satu fokus utama yang dibahas dalam 31st ASEAN Post Business Meeting (APBM XXXI). Melalui skema tarif tunggal, jaringan pos ASEAN diharapkan mampu menawarkan layanan pengiriman lintas negara yang lebih sederhana, transparan, dan terjangkau terutama bagi pelaku UMKM yang ingin memperluas pasar ke negara-negara tetangga. Direktur Business Development Pos Indonesia, Prasabri Pesti mengatakan jaringan pos diharapkan dapat menjadi pilihan utama masyarakat dalam pengiriman barang di kawasan ASEAN. Hadirnya tarif tunggal, akan membuat biaya yang dihadirkan lebih transparan. “Kami ingin saat orang berpikir tentang mengirim barang di Asia Tenggara, pikiran pertama mereka adalah jaringan pos adalah pilihan yang paling terjangkau dan mudah,” ujar Prasabri dikutip Selasa (13/1/2026). Selain inisiatif tarif tunggal, Pos Indonesia juga menyoroti dua agenda penting lainnya, yakni Dominasi Marketplace Lintas Batas (Cross-Border) dan Kepastian Pengiriman melalui Delivered Duty Unpaid (DDU) dan Delivered Duty Paid (DDP). Prasabri menekankan bahwa kondisi perdagangan saat ini yang tidak lagi mengenal batas negara. Melalui penguatan layanan pengiriman lintas negara. Pengalaman pelanggan menjadi faktor utama, mulai dari kecepatan pengiriman, transparansi pelacakan, hingga kepastian barang sampai ke tujuan. Karena itu, Pos Indonesia mendorong penguatan peran ASEANPOST sebagai mitra strategis bagi pelaku UMKM agar dapat menjangkau pasar negara-negara tetangga dengan biaya pengiriman yang tetap terjangkau. Selain itu, peningkatan kepercayaan pelanggan juga didorong melalui penerapan skema pengiriman DDU dan DDP. Melalui sistem ini, biaya serta proses kepabeanan dapat diketahui secara jelas sejak awal, sehingga pelanggan tidak lagi menghadapi biaya tambahan yang tidak terduga saat paket diterima. Transparansi tersebut dinilai penting untuk menciptakan pengalaman pengiriman lintas negara yang lebih pasti dan nyaman. Menurut Prasabri, APBM menjadi wadah bagi negara-negara anggota ASEAN untuk menyelaraskan arah pengembangan layanan pos, berbagi praktik operasional terbaik, serta memperkuat ASEANPOST sebagai platform bersama guna meningkatkan daya saing regional. Sebagai tuan rumah, Pos Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendorong kesepakatan yang tidak berhenti pada wacana. Hasil APBM XXXI diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dan diimplementasikan oleh masing-masing negara anggota. "ASEANPOST akan menjadi paling kuat ketika solidaritas regional dibarengi dengan kemajuan operasional yang nyata. APBM 31 adalah peluang kita untuk menjadikan pos sebagai platform regional yang unggul secara komersial," tutup Prasabri. (Nur Amalina)
👁️ 56 kali
Praktik Pembatasan Angkutan Barang Inkonsisten, Pengusaha Logistik Komplain
2026-01-06
JAKARTA, KOMPAS — Dalam masa Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, pemerintah telah menjadwalkan operasionalisasi angkutan barang, khususnya jenis sumbu tiga ke atas. Implementasinya tidak sesuai regulasi yang ditentukan sehingga pelaku usaha logistik kembali merugi dengan penyusutan volume 15-20 persen pada Desember 2025 dibandingkan bulan sebelumnya. Kebijakan operasionalisasi angkutan barang pada masa Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Pengaturan Lalu Lintas Jalan serta Penyeberangan Selama Masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Namun, realisasinya, menurut pengusaha angkutan logistik, tidak sesuai aturan yang telah dibuat pemerintah sendiri. Hal ini merugikan pengusaha angkutan logistik. Berdasarkan SKB, angkutan barang bisa lewat jalan tol dan arteri dalam jendela waktu yang telah ditentukan. Namun, pada praktiknya, jendela waktu di jalan tol ditiadakan. Akibatnya, angkutan logistik akhirnya lewat jalan arteri sehingga waktu tempuh lebih lama. Persoalan lain, beberapa ruas di jalan arteri juga tidak dapat dilalui angkutan barang karena aparat melarangnya. Imbas pembatasan angkutan logistik pada Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, volume penjualannya turun sekitar 20 persen pada Desember 2025 dibandingkan bulan sebelumnya. Ini mencakup barang konsumsi dan elektronik. Akhir tahun semestinya dapat menjadi musim puncak untuk menutup rendahnya volume dan pendapatan pada yang kurang optimal pada bulan-bulan sebelumnya. Hilangnya momentum karena volume yang rendah, otomatis pemasukan pun menyusut, sehingga setoran pajak juga tidak optimal. ”Jadi, kan, perlu kita telusuri ya. Ini bisa jadi lesson learned buat berikutnya. Sebentar lagi Ramadhan. Pelaku usaha industri sudah curi start. Mereka sudah produksi sebulan sebelumnya,” kata Mahendra. Ia mendesak agar seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah, melihat dari berbagai sisi atau menggunakan helicopter view. Ada aktivitas logistik nasional yang rutin dilakukan. Namun, masalahnya selalu berkutat di tempat yang sama dan belum ada solusinya. SKB yang selama ini disusun tiga instansi semestinya turut melibatkan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan. Instansi-instansi tersebut dapat memberikan perspektif dari sisi pelaku usaha. Lagi pula, masih ada moda transportasi lain yang semestinya bisa dibantu untuk mendukung angkutan logistik tetap berjalan. Pemerintah dapat menyiapkan kapal roll-on/roll-off (roro) untuk mengakomodasi angkutan logistik. Ada ruas jalan tertentu yang bisa digunakan khusus bagi angkutan logistik. Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Agus Pratiknyo mengatakan, pembatasan operasional angkutan jalan mendorong para pengusaha di daerah saling berkoordinasi. Sebab, kepolisian di beberapa wilayah berhak melakukan diskresi sehingga kesempatan itu dimanfaatkan untuk menggelar operasi. ”Pelarangan full itu memberatkan dan membingungkan kami sebagai pengusaha karena kami kerja terjadwal. Customer kami harus menyesuaikan dengan pengiriman. Kalau sekarang ini regulasi dibuat mendadak, ini tidak baik untuk dunia usaha karena jadi ekonomi berbiaya tinggi,” tutur Agus. Ia juga menyebut, ada penyusutan volume pengantaran 15-20 persen pada Desember 2025 dibandingkan sebulan sebelumnya. Otomatis, omzetnya pun tergerus. Jika mewajibkan pembatasan angkutan logistik, pemerintah perlu bersikap adil dengan memberikan solusi atau stimulus bagi pengusaha. Ia merasa, pemerintah belum memperhatikan sektor angkutan logistik. ”Berikan stimulus, entah keringanan pajak kendaraan, dan sebagainya. Itu pengeluaran kami sebagai kewajiban ke negara. Jadi harus berimbang (timbal-balik), ada kompensasi. Sekarang (pemerintah) hanya bisa melarang,” kata Agus. Meski demikian, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Benny Soetrisno menilai, pelaksanaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sudah jauh lebih baik dibandingkan larangan angkutan barang saat Lebaran. Alasannya, tidak terjadi kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok. Namun, ia berharap, pemerintah tetap perlu berkoordinasi dengan pelaku ekspor-impor untuk mengatur lalu lintas angkutan barang. Evaluasi pembatasan angkutan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan, jendela waktu diberikan guna mengakomodasi pelaku usaha angkutan logistik agar tetap beroperasi selama masa libur. Namun, ada kekhawatiran beroperasinya kendaraan besar akan mengganggu jalannya pelaksanaan Natal dan Tahun Baru. ”Setelah kami evaluasi, sepertinya window time ini kurang efektif karena akhirnya dalam pelaksanaannya arus kendaraan logistik cukup besar sehingga dikhawatirkan akan mengganggu kelancaran maupun keselamatan pengguna jalan,” tutur Dudy seusai menutup Posko Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Jakarta, Senin (5/1/2026). Beroperasinya kendaraan besar dinilai tidak memberi jaminan rasa aman dan keselamatan di jalan raya. Sebab, ada risiko kecelakaan di jalan raya saat mobilitas masyarakat tinggi. ”Kami akan melakukan evaluasi dari Natal dan Tahun Baru kemarin, kemudian juga Lebaran. Pada bulan Januari, kami harapkan sudah bisa memberikan keputusan bagaimana mekanisme pengaturan transportasi logistik, khususnya yang ada di jalan,” ujar Dudy. Pembatasan angkutan barang ini merupakan upaya pemerintah mengatur sekaligus mengurai kepadatan lalu lintas. Hal ini biasa dilakukan bersamaan dengan kebijakan bekerja dari mana saja atau work from anywhere untuk memecah keramaian. Ketika ditanya skema pembatasan penuh apakah akan berlaku pada masa Lebaran mendatang, Dudy belum dapat memastikannya. Sebab, kebijakan itu akan diberlakukan berdasarkan proyeksi pergerakan masyarakat. ”Namun, kalau nanti pada Lebaran volumenya akan lebih meningkat, tentunya kami akan lebih strict terhadap pemberlakuan pembatasan (angkutan logistik). Yang penting dan perlu diingat, prioritas utama kita adalah keselamatan. Kami minta pengusaha harus memaklumi, secara keselamatan, kita enggak bisa menguantifikasi nyawa manusia,” tutur Dudy. Pemerintah berjanji akan mendengarkan aspirasi pengusaha angkutan logistik. Ia juga akan melibatkan para pengusaha angkutan logistik dalam penyusunan kebijakan pembatasan kendaraan besar. Sebelumnya, pemerintah telah menerbitkan SKB tentang Pengaturan Lalu Lintas Jalan serta Penyeberangan Selama Masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Regulasi itu diteken Kemenhub, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Korps Lalu Lintas Polri. Pembatasan operasional angkutan barang meliputi angkutan barang dengan tiga sumbu atau lebih, kereta tempelan atau kereta gandeng. Angkutan yang dibatasi, khusus membawa hasil galian (tanah, pasir, batu), hasil tambang, serta bahan bangunan, seperti besi, semen, dan kayu. Berbeda dari pembatasan sebelumnya, keberadaan jendela waktu memberi peluang bagi angkutan logistik untuk bergerak. Hal ini membedakan dari pembatasan pada periode-periode sebelumnya. Pembatasan dimulai pada 19 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Dalam rentang waktu tersebut, setidaknya ada enam hari angkutan logistik diberi kesempatan beroperasi, yakni pada 21-22 Desember 2025 dan 29-31 Desember 2025. Artinya, pembatasan akan berlaku pada 19-20 Desember 2025, 23-28 Desember 2025, serta 2-4 Januari 2026. Pembatasan pada jalan tol akan dilakukan secara penuh pada pukul 00.00-24.00 WIB. Pembatasan lebih fleksibel pada jalan arteri berlaku pukul 05.00-22.00. Setarakan kepentingan Menurut Wakil Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia IB Ilham Malik, pembatasan angkutan logistik selalu jadi isu berulang karena Indonesia belum menempatkan angkutan logistik sebagai bagian sistem pelayanan publik strategis. Angkutan logistik masih dianggap sebagai ”pengganggu” lalu lintas saat puncak mobilitas. Padahal, secara fungsi ruang dan ekonomi, logistik merupakan urat nadi yang justru menopang stabilitas harga, ketersediaan barang, dan keberlanjutan aktivitas masyarakat selama hari besar. SKB pembatasan kendaraan merupakan upaya jalan tengah yang diberikan pemerintah melalui mekanisme jendela waktu. Negara sebenarnya mengakui setaranya kepentingan keselamatan pemudik dan kepentingan distribusi barang. ”Ketika implementasi window time dihilangkan sepihak dan tol ditutup penuh, maka yang terjadi bukan sekadar persoalan teknis lalu lintas, melainkan kepastian kebijakan. Pengusaha logistik sudah menyusun jadwal, biaya, kontrak berbasis SKB,” tutur Ilham. Ketika aturan yang diterbitkan pemerintah tidak dijalankan konsisten, maka risiko ekonomi otomatis dialihkan ke pelaku usaha. Namun, alasan keselamatan tentu tidak bisa diabaikan. Jalan tengahnya, Ilham melanjutkan, perlu disusun lebih sistemik. Jendela waktu harus dirancang sebagai skema operasional, bukan sekadar klausul kebijakan. Ada ruas tol tertentu yang dibuka terbatas dengan pengawalan, kecepatan maksimum rendah, dan jadwal ketat yang harus dipatuhi. Kemudian, pendekatan tata guna lahan perlu dipertimbangkan. Ketergantungan penuh pada koridor tol utama menunjukkan lemahnya persebaran pusat logistik, pelabuhan kering (dry port), dan jalur distribusi alternatif. ”Selama kebijakan Natal dan Tahun Baru masih bersifat reaktif—menutup ketika padat, membuka ketika lengang—maka isu ini akan selalu muncul lagi ke depannya. Yang dibutuhkan segera adalah perencanaan mobilitas libur panjang yang integrasikan pergerakan manusia dan barang sebagai satu sistem, bukan dua kepentingan yang saling mengorbankan,” ujar Ilham.
👁️ 91 kali
