Apa Itu Cold Chain dan Peran Pentingnya pada Rantai Pasok
Cold chain adalah manajemen rantai pasok yang menggunakan teknologi pendingin khusus dan dirancang eksklusif untuk pengiriman barang yang mudah rusak, obat-obatan, vaksin, produk yang sensitif terhadap perubahan suhu, bahan kimia, dan lain sebagainya.
Tujuan utama penggunaan cold chain adalah untuk mempertahankan suhu konsisten selama proses penyimpanan dan pengiriman sehingga produk-produk tersebut tetap utuh, segar, dan kualitasnya tetap terjaga.
Metode cold chain telah mengalami serangkaian inovasi hingga memunculkan beberapa pilihan teknologi pendingin, di antaranya:
- Dry ice untuk menjaga produk tetap beku untuk waktu yang lama.
- Ice pack untuk bahan-bahan medis dan farmasi.
- Nitrogen cair untuk menjaga suhu bahan-bahan biologis, seperti organ dan jaringan.
- Reefers atau alat transportasi dengan teknologi pengontrol suhu dan sirkulasi udara.
- Quilts atau bungkusan es yang diletakkan di atas produk untuk menjaga suhu.
- Kontainer insulasi dengan unit pendingin yang bisa menjaga suhu produk.
- Gudang berpendingin yang dapat menjaga konsistensi tingkat kelembapan dan suhu untuk memperpanjang masa simpan produk.
- Sistem pemantau suhu yang dapat mendeteksi adanya kesalahan yang dapat merusak kualitas produk.
Berkat teknologi cold chain yang terus berkembang, logistik cold chain telah tumbuh pesat sejak revolusi industri logistik di tahun 1950-an. Menurut Statista, di tahun 2024, keuntungan logistik cold chain telah mencapai 364 miliar dolar.
Baca juga: Mengenal FOB (Free on Board), Jenisnya, dan Keuntungannya
Apa Pentingnya Cold Chain bagi Industri?
Cold chain perlu diterapkan pada produk-produk tertentu untuk beberapa alasan, di antaranya:
1. Menjaga Kualitas Produk
Produk yang sensitif terhadap suhu memiliki risiko tinggi untuk rusak selama proses penyimpanan dan pengiriman. Produk tersebut bisa rusak akibat pertumbuhan bakteri dan mikroba. Hal ini tentu dapat mengurangi kesempatan penjualan dan keuntungan bagi perusahaan.
Oleh karena itu, gudang, ritel, dan kendaraan yang digunakan untuk produk-produk tersebut harus bisa menjaga suhu yang akurat agar bisa memperpanjang masa simpannya. Salah satu contoh produk yang perlu dijaga suhunya agar kualitas produknya tetap terjaga adalah daging segar, baik daging ikan maupun daging ternak.
2. Mengoptimalkan Efisiensi Operasional
Risiko kerusakan yang dapat dimitigasi dengan metode ini akhirnya akan mengurangi biaya penggantian dan perbaikan barang serta mengurangi pemborosan. Alhasil, proses operasional tetap berjalan dengan efisien.
3. Mematuhi Regulasi yang Ada
Proses manajemen rantai pasok, mulai dari produksi hingga distribusi, tentunya memiliki regulasi dan standarnya masing-masing. Oleh karena itu, manajemen cold chain yang baik dapat memitigasi adanya kerugian akibat kerusakan produk dan membantu perusahaan untuk patuh pada protokol quality assurance.
Beberapa regulasi yang mengatur cold chain adalah ISO 22000 yang mengatur keamanan bahan pangan, panduan Good Distribution Practice (GDP) yang memastikan produk-produk yang sensitif terhadap suhu tetap mendapatkan perlakukan yang tepat selama proses distribusi, dan masih banyak lagi.
4. Meningkatkan Keamanan Produk
Gudang dan alat transportasi cold chain dapat mengatur suhu yang stabil sehingga mencegah tumbuhnya mikroorganisme berbahaya. Alhasil, makanan atau obat-obatan tetap aman dari risiko menyebabkan penyakit atau keracunan makanan.
5. Mengurangi Limbah dan Sampah
Mekanisme logistik cold chain yang tepat dan efektif akan mengurangi limbah dari produk-produk yang rusak. Alhasil, arus kas tetap terjaga dan perusahaan tidak membuang-buang sumber daya yang dapat mencemari lingkungan jika tidak ditangani dengan benar.
6. Meningkatkan Kepuasan Pelanggan
Pengiriman cold chain yang andal dapat meningkatkan kepuasan pelanggan karena mereka mendapatkan produk yang dipesan dalam kondisi optimal. Manfaat cold chain ini juga bisa meningkatkan reputasi perusahaan Anda.
Keterangan
| Nama Kontributor | : | Chandra Asri Group |
| Link Artikel | : | https://chandra-asri.com/id/blog/cold-chain-adalah |
| Jumlah Dilihat | : | 95 kali |
| Updated | : | 15 August 2026 |
|
|
MEMUTUS RANTAI PANGAN MUBAZIR : UPAYA NYATA MENJAGA STABILITAS HARGA
Isu Food Loss bukan sekadar masalah teknis pertanian atau penumpukan sampah, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional dan ketersediaan pangan rakyat. Selama periode 2021 hingga 2026 tercatat, fenomena ini menjadi beban ekonomi yang mendesak untuk segera diatasi melalui kerja kolaboratif dari pusat hingga ke daerah.
Krisis di Balik Angka dan Dampak Sosial Secara kuantitas, Indonesia diperkirakan membuang antara 23 hingga 48 juta ton bahan pangan setiap tahunnya. Hal ini berarti setiap individu menyumbang antara 115 hingga 184 kilogram pangan yang terbuang sia-sia. Dari sisi finansial, kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai angka Rp213 Triliun hingga Rp551 Triliun per tahun, yang setara dengan 4% hingga 5% dari total PDB nasional. Dampak sosialnya pun sangat mendalam, mengingat pangan yang hilang tersebut sebenarnya mampu mencukupi kebutuhan energi bagi 61 juta hingga 125 juta jiwa , atau mencakup 29% hingga 47% dari populasi kita.
Titik Kritis Berdasarkan Jenis Komoditas. Setiap jenis pangan memiliki kerentanan yang berbeda dalam rantai pasok. Ketidakefisienan ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik produk, cara penanganan di sawah, hingga ketersediaan sarana penyimpanan yang memadai. Kelompok hortikultura seperti sayur dan buah mengalami kehilangan tertinggi mencapai 20% hingga 50% akibat tekstur yang mudah rusak dan minimnya sistem rantai dingin. Sementara itu, komoditas padi dan jagung mengalami penyusutan 9% hingga 10% karena inefisiensi saat panen dan pengaruh cuaca ekstrem. Produk daging dan ikan mencatatkan susut sekitar 12% karena kurangnya fasilitas pendingin yang memadai.
Konsekuensi Terhadap Harga Pangan Nasional Dampak dari tingginya angka kehilangan pangan ini dirasakan langsung melalui harga pasar yang mahal dan fluktuatif. Kehilangan hasil sebesar 50% di jalur distribusi secara otomatis memicu kelangkaan stok yang mendorong lonjakan harga di tangan konsumen. Sebagai ilustrasi, hilangnya 10% panen padi saja sudah mampu menggoyang stabilitas harga beras nasional secara signifikan. Apabila Indonesia mampu mencapai tingkat efisiensi pasca-panen yang setara dengan Thailand, harga sayur dan buah di pasar domestik diprediksi dapat turun antara 15% hingga 25% tanpa harus mengorbankan margin keuntungan petani.
Intervensi Taktis dari Hulu hingga Distribusi. Untuk membenahi sistem ini, pemerintah fokus pada dua intervensi utama sebelum pangan mencapai pasar. Di tingkat produksi atau on-farm, percepatan mekanisasi melalui penggunaan Combine Harvester telah terbukti mampu menekan susut hasil padi secara instan dari 12% menjadi hanya 3%. Di tingkat distribusi atau midstream, diluncurkan gebrakan Tol Dingin Nusantara yang mencakup subsidi angkutan berpendingin serta penggunaan wadah standar seperti crate plastik untuk menjaga kesegaran produk selama perjalanan jarak jauh. Strategi ini bertujuan memastikan kualitas produk tetap terjaga sejak keluar dari lahan pertanian hingga masuk ke simpul-simpul perdagangan.
Aksi Nyata Daerah dan Transformasi Pasar. Pemerintah Pusat memberikan Mandat Penyelamatan Pangan melalui sistem penghargaan Lomba Penyelamatan Pangan Nasional untuk memotivasi Pemerintah Daerah. Fokus penyelesaian diletakkan pada inisiatif mandiri daerah melalui konsep Pasar Tanpa Limbah yang bertumpu pada tiga pilar teknis. Pilar pertama adalah sortasi untuk memisahkan produk layak jual, layak donasi, dan layak olah. Pilar kedua adalah distribusi pangan sisa layak pakai melalui kerja sama dengan Bank Pangan. Pilar ketiga adalah bio-konversi untuk mengolah limbah organik menjadi pakan ternak atau kompos di lokasi pasar. Dalam skema ini, Pasar Modern dan Ritel diwajibkan menjadi Hub Penampung produk lokal sekaligus pusat transfer teknologi pendingin bagi pemasok di wilayahnya.
Gebrakan Digital dan Kepastian Hukum Transformasi ini diperkuat dengan digitalisasi pemantauan stok secara real-time untuk mencegah penumpukan surplus yang berisiko membusuk di satu wilayah. Selain itu, dijalankan kampanye nasional Produk Penampilan Tidak Mulus yang mengajak masyarakat membeli produk cacat penampilan dengan potongan harga 30% hingga 50%. Untuk mendukung sektor swasta, pemerintah menyiapkan payung hukum perlindungan pendonor pangan agar pihak hotel dan ritel memiliki kepastian hukum serta tidak ragu untuk mendonasikan sisa pangan layak konsumsi mereka guna membantu pemenuhan gizi masyarakat.
Investasi Pemerintah Sebagai Solusi Melawan Kerugian. Target RPJMN 2025-2029 adalah menurunkan angka kehilangan pangan sebesar 3% hingga 5% per tahun secara konsisten. Secara ekonomi, langkah ini sangat menguntungkan karena setiap Rp1.000 investasi pada teknologi pasca-panen mampu menyelamatkan nilai pangan sebesar Rp14.000. Meskipun kebutuhan investasi infrastruktur terlihat besar, nilainya jauh lebih kecil dibandingkan dengan membiarkan pemborosan tahunan senilai Rp551 Triliun terus berlanjut. Menekan food loss adalah jalan tercepat untuk mewujudkan harga pangan yang terjangkau bagi rakyat sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
ARTICLE 16
CAN YOU FIND ENOUGH POWER FOR YOUR DISTRIBUTION CENTER?
In decades past, a warehouse was simply a large building used for storing goods and materials you didn’t need to access anytime soon. The best place to build these facilities was in rural areas far from cities, where land was cheap and back roads were good enough to support the occasional truck making a delivery.
But today, those facilities are more often known as distribution centers, and they’re located near major highways close to the urban areas in order to support high inventory turnover and enable lightning-fast deliveries to homes and stores. And one more thing has changed: They increasingly need access to large amounts of electrical power to run the automated systems and robotics inside that allow them to operate at such high speeds.
In fact, commercial real estate firm Cushman & Wakefield has pointed to the cost and availability of electrical power as a growing concern for companies seeking sites for modern DCs. Meanwhile, logistics real estate giant Prologis recently boasted of building a DC in the Netherlands that was designed to solve that problem by making and storing much of its own energy on site through a large-scale solar network. In Prologis’ words, “Across the world, companies are running into the same problem: They want to grow—but the power grid can’t keep up. From the U.S. to Europe to Asia, grid congestion has become a barrier to progress, slowing projects that could bring jobs, innovation, and investment to local communities.”
However, even a widescale shift to solar won’t provide nearly enough power to support another type of technology that’s becoming increasingly crucial for warehouse operations—artificial intelligence (AI). Many forecasts for 2026 say that AI will begin to take over large swaths of logistics tasks currently done by company employees, whether it’s answering phones, forecasting inventory needs, or planning delivery routes. To meet the expected demand, major tech companies are rushing to construct the infrastructure that supports AI, which runs on graphical processing unit (GPU) chips inside powerful computer servers located in another kind of DC—the data center. And as we’ve all heard by now, data centers consume staggering amounts of electricity.
If AI expansion comes anywhere close to those projected levels, the estimates for those new power needs are stunning. At a recent trade show in New York held by the enterprise software vendor IFS, speakers said society will need a 50% increase in electrical power production by 2030 to support AI. Another speaker set the bar even higher, projecting that demand for electricity would triple by 2050 when those AI power demands are added to “the electrification of everything,” the term for global decarbonization efforts aimed at switching households, transportation operations, and industry from carbon-based fuels to electricity, according to Sabine Erlinghagen, CEO of Siemens Grid Software.
The limitations of Electrical grids are already beginning to slow of the development of one kind of DC -the distribution center- and will soon start to restrict the growth of the other type of DC – the data center. in coming years both of the bottlenecks could have major effects on the entire supply chain industry (source: GCCA newspaper).
Keterangan
| Nama Kontributor | : | Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia |
| Link Artikel | : | http://arpionline.org/ |
| Jumlah Dilihat | : | 39 kali |
| Updated | : | 15 August 2026 |
|
|
