Blokade Selat Hormuz Picu Kenaikan Biaya Logistik Minyak - Energi
Redaksi
bloombergtechnoz.com
2026-03-02
Bloomberg Technoz, Jakarta - Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari tidak hanya memicu ketegangan politik. Kondisi ini juga mengguncang salah satu urat nadi terpenting perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz.
Blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan AS-Israel langsung membuat pelaku pasar siaga. Bukan hanya pasar minyak, tetapi juga industri pelayaran global. Tarif sewa kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (very large crude carrier/VLCC) pun melonjak tajam.
Melansir Bloomberg Intelligence, sepanjang tahun ini saja, tarif spot VLCC sudah naik 767% dari level terendahnya pada 6 Januari lalu, dan pada 27 Februari tercatat sekitar US$225.637 per hari, jauh di atas rata-rata titik impas industri yang hanya US$25.000–US$35.000 per hari.
Jika ketegangan berlanjut atau terjadi gangguan nyata pada pelayaran, tarif itu berpotensi mendekati rekor 2019 yaitu sebesar US$317.334 per hari.
Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Sekitar 26% perdagangan minyak mentah dunia dan 20% gas alam cair (LNG) global melintasi jalur sempit ini setiap hari.
Secara nilai, arus minyak yang melewatinya mencapai sekitar US$600 miliar per tahun. Artinya, apa pun yang terjadi di sana hampir pasti terasa hingga ke harga BBM, inflasi, dan biaya logistik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Secara geografis, Selat Hormuz memang tampak cukup lebar, sekitar 34 kilometer di pintu masuk Teluk Persia. Namun jalur pelayaran efektifnya ternyata jauh lebih sempit, hanya sekitar 3 kilometer untuk masing-masing arah.
Jalur ini menjadi satu-satunya pintu keluar ekspor minyak dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Jika terjadi gangguan, opsi alternatifnya juga sangat terbatas.
Bagi operator kapal tanker, ini berarti lonjakan laba jangka pendek. Namun bagi konsumen energi global, kenaikan harga ini jadi alarm lonjakan biaya operasional yang dapat menekan margin.
Mengapa demikian? Sebab, biaya pengiriman adalah salah satu komponen harga akhir energi. Jika ongkos sewa kapal melonjak, harga minyak mentah cenderung ikut terdorong naik. Dan ketika harga minyak naik, dampaknya berantai: biaya transportasi meningkat, harga pangan bisa terdorong, dan tekanan inflasi menguat.
Masalahnya, tidak mudah mencari jalur pengganti Selat Hormuz. Memang ada jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang bisa mengalihkan sebagian pasokan minyak tanpa melewati selat tersebut. Namun kapasitas tambahan yang bisa dialihkan melewati kawasan itu pun terbatas.
“Jaringan pipa yang tersedia pun kapasitasnya terbatas. Tambahan aliran yang bisa dialihkan tanpa melewati Selat Hormuz hanya sekitar 2,6 juta barel per hari, atau menurut estimasi US Energy Information Administration, setara dengan sekitar 13% saja dari total volume minyak yang biasa melintas di kawasan tersebut,” sebut Audrey Childe-Freeman Analis Bloomberg Intelligence dalam Laporannya, Minggu (1/3/2026).
Artinya, sekitar 66% minyak kawasan tersebut tetap tidak bisa menghindari Selat Hormuz. Dengan kata lain, jika terjadi blokade serius, dunia tidak punya banyak ruang manuver.
Terlebih saat ini dengan kematian pemimpin Iran Ali Khamenei yang terkonfirmasi, eskalasi perang diproyeksikan akan terus berlanjut.
Berkaca dari gangguan pelayaran sebelumnya yang di Laut Merah pada Desember 2023. Saat itu, serangan terhadap kapal dagang memaksa banyak perusahaan pelayaran memutar jalur lebih jauh, meningkatkan waktu tempuh dan biaya.
Jika Selat Hormuz, yang perannya jauh lebih besar bagi perdagangan energi, mengalami gangguan serupa, dampaknya bisa lebih luas.
Tidak hanya perusahaan tanker yang terdampak. Operator kontainer global pun akan merasakan efeknya, meskipun dalam tingkat yang lebih kecil. Ketidakpastian geopolitik seperti ini selalu meningkatkan premi risiko.
Perusahaan asuransi menaikkan tarif, pelayaran memperketat protokol keamanan, dan sebagian operator bahkan menunda atau menghentikan pelayaran sementara melalui kawasan berisiko tinggi.
Bagi negara-negara importir energi, termasuk banyak negara Asia, perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian serius. Stabilitas pasokan energi adalah fondasi pertumbuhan ekonomi.
Ketika harga minyak melonjak tajam, ruang fiskal pemerintah menyempit, terutama jika harus menahan kenaikan harga domestik melalui subsidi. Di sisi lain, bank sentral negara-negara, khususnya importir minyak, juga harus lebih waspada terhadap risiko inflasi.
Untuk saat ini, dunia pelayaran dan pasar energi agaknya sedang berada dalam mode siaga. Tarif kapal melonjak, risiko meningkat, dan para pelaku industri menimbang skenario terburuk.
Kondisi Selat Hormuz saat ini bisa jadi catatan dunia bahwa di era globalisasi, jalur air yang meski kecil saja di Timur Tengah, bisa menentukan denyut ekonomi global. (dsp)
Sumber Berita :
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/101214/blokade-selat-hormuz-picu-kenaikan-biaya-logistik-minyak/2Berita Terbaru
Blokade Selat Hormuz Picu Kenaikan Biaya Logistik Minyak - Energi
2026-03-02
Bloomberg Technoz, Jakarta - Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari tidak hanya memicu ketegangan politik. Kondisi ini juga mengguncang salah satu urat nadi terpenting perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz. Blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan AS-Israel langsung membuat pelaku pasar siaga. Bukan hanya pasar minyak, tetapi juga industri pelayaran global. Tarif sewa kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (very large crude carrier/VLCC) pun melonjak tajam. Melansir Bloomberg Intelligence, sepanjang tahun ini saja, tarif spot VLCC sudah naik 767% dari level terendahnya pada 6 Januari lalu, dan pada 27 Februari tercatat sekitar US$225.637 per hari, jauh di atas rata-rata titik impas industri yang hanya US$25.000–US$35.000 per hari. Jika ketegangan berlanjut atau terjadi gangguan nyata pada pelayaran, tarif itu berpotensi mendekati rekor 2019 yaitu sebesar US$317.334 per hari. Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Sekitar 26% perdagangan minyak mentah dunia dan 20% gas alam cair (LNG) global melintasi jalur sempit ini setiap hari. Secara nilai, arus minyak yang melewatinya mencapai sekitar US$600 miliar per tahun. Artinya, apa pun yang terjadi di sana hampir pasti terasa hingga ke harga BBM, inflasi, dan biaya logistik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Secara geografis, Selat Hormuz memang tampak cukup lebar, sekitar 34 kilometer di pintu masuk Teluk Persia. Namun jalur pelayaran efektifnya ternyata jauh lebih sempit, hanya sekitar 3 kilometer untuk masing-masing arah. Jalur ini menjadi satu-satunya pintu keluar ekspor minyak dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Jika terjadi gangguan, opsi alternatifnya juga sangat terbatas. Bagi operator kapal tanker, ini berarti lonjakan laba jangka pendek. Namun bagi konsumen energi global, kenaikan harga ini jadi alarm lonjakan biaya operasional yang dapat menekan margin. Mengapa demikian? Sebab, biaya pengiriman adalah salah satu komponen harga akhir energi. Jika ongkos sewa kapal melonjak, harga minyak mentah cenderung ikut terdorong naik. Dan ketika harga minyak naik, dampaknya berantai: biaya transportasi meningkat, harga pangan bisa terdorong, dan tekanan inflasi menguat. Masalahnya, tidak mudah mencari jalur pengganti Selat Hormuz. Memang ada jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang bisa mengalihkan sebagian pasokan minyak tanpa melewati selat tersebut. Namun kapasitas tambahan yang bisa dialihkan melewati kawasan itu pun terbatas. “Jaringan pipa yang tersedia pun kapasitasnya terbatas. Tambahan aliran yang bisa dialihkan tanpa melewati Selat Hormuz hanya sekitar 2,6 juta barel per hari, atau menurut estimasi US Energy Information Administration, setara dengan sekitar 13% saja dari total volume minyak yang biasa melintas di kawasan tersebut,” sebut Audrey Childe-Freeman Analis Bloomberg Intelligence dalam Laporannya, Minggu (1/3/2026). Artinya, sekitar 66% minyak kawasan tersebut tetap tidak bisa menghindari Selat Hormuz. Dengan kata lain, jika terjadi blokade serius, dunia tidak punya banyak ruang manuver. Terlebih saat ini dengan kematian pemimpin Iran Ali Khamenei yang terkonfirmasi, eskalasi perang diproyeksikan akan terus berlanjut. Berkaca dari gangguan pelayaran sebelumnya yang di Laut Merah pada Desember 2023. Saat itu, serangan terhadap kapal dagang memaksa banyak perusahaan pelayaran memutar jalur lebih jauh, meningkatkan waktu tempuh dan biaya. Jika Selat Hormuz, yang perannya jauh lebih besar bagi perdagangan energi, mengalami gangguan serupa, dampaknya bisa lebih luas. Tidak hanya perusahaan tanker yang terdampak. Operator kontainer global pun akan merasakan efeknya, meskipun dalam tingkat yang lebih kecil. Ketidakpastian geopolitik seperti ini selalu meningkatkan premi risiko. Perusahaan asuransi menaikkan tarif, pelayaran memperketat protokol keamanan, dan sebagian operator bahkan menunda atau menghentikan pelayaran sementara melalui kawasan berisiko tinggi. Bagi negara-negara importir energi, termasuk banyak negara Asia, perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian serius. Stabilitas pasokan energi adalah fondasi pertumbuhan ekonomi. Ketika harga minyak melonjak tajam, ruang fiskal pemerintah menyempit, terutama jika harus menahan kenaikan harga domestik melalui subsidi. Di sisi lain, bank sentral negara-negara, khususnya importir minyak, juga harus lebih waspada terhadap risiko inflasi. Untuk saat ini, dunia pelayaran dan pasar energi agaknya sedang berada dalam mode siaga. Tarif kapal melonjak, risiko meningkat, dan para pelaku industri menimbang skenario terburuk. Kondisi Selat Hormuz saat ini bisa jadi catatan dunia bahwa di era globalisasi, jalur air yang meski kecil saja di Timur Tengah, bisa menentukan denyut ekonomi global. (dsp)
👁️ 22 kali
ALI Minta Pemerintah Ukur Biaya Logistik Nasional 2026, Proyeksi Turun?
2026-02-23
Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mendorong pemerintah untuk mengukur ulang kinerja dan biaya logistik nasional terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun 2026. Pasalnya data terakhir yang dirilis Pemerintah berasal dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 2023 atau tiga tahun silam. Ketua ALI Mahendra Rianto menyampaikan, kinerja biaya logistik sudah harus diperbarui untuk melihat kondisi terkini, apakah turun atau justru naik. Dirinya mengusulkan agar informasi ini dapat dirilis setiap dua tahun sekali, bersamaan dengan rilis Logistic Performance Index (LPI) milik Bank Dunia. “Kami usulkan periodenya 2 tahun sekali supaya bisa counter LPI-nya World Bank yang perspektif dan scope-nya berbeda,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026). Menurutnya, metode penghitungan biaya logistik versi Indonesia—Bappenas dan Badan Pusat Statistik (BPS)—lebih mengarah kepada indikator rantai pasok dan logistik. Adapun Bappenas bersama BPS merilis ongkos logistik per September 2023 sebesar 14,29% dari PDB. Masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain di Kawasan, seperti Filipina yang sebesar 13%, Malaysia 13%, Singapura 8%, Thailand 15%, China 14%, India 13%, dan Jepang 8%. Bappenas maupun BPS terpantau belum merilis angka ini lagi, begitu pula dengan Bank Dunia yang merilis LPI terakhir pada 2023. Skor LPI Indonesia 3 dan berada di peringkat 61, sementara Singapura memiliki skor 4,3 dan berada di posisi 1. Sementara dalam Outlook Supply Chain dan Logistik Indonesia 2026 yang ALI rilis, kondisi biaya logistik tinggi menjadi tantangan dan terdampak kondisi geopolitik global dan ekonomi domestik. Misalnya, kenaikan ongkos kirim dan harga kargo global, ditambah fluktuasi harga bahan bakar membebani biaya operasional logistik. Mahendra melihat terdapat sejumlah penyebab masih tingginya biaya logistik di Indonesia. Mulai dari paradoks tingginya biaya di tengah pertumbuhan industri, sering kali oleh inefisiensi operasional dan ketergantungan pada moda transportasi konvensional. Ketimpangan infrastruktur dan distribusi barang ke daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) menyebabkan biaya logistik domestik ke wilayah Timur Indonesia tetap mahal. Bukan hanya itu, tarif tol dinilai membebani biaya operasional perusahaan. Penggunaan jalan tol dinilai belum mampu secara efektif menurunkan total biaya logistik. Pada beberapa rute, total Biaya Operasional Kendaraan (BOK) melalui jalan tol lebih tinggi dibandingkan jalur non-tol. Penyebabnya, yakni meningkatnya biaya perawatan rutin (suku cadang cepat haus), biaya lebih tinggi di tempat peristirahatan/rest area bagi supir, sementara penghematan waktu yang dihasilkan, tidak sebanding dengan biaya tersebut. “Ekspektasi peran pemerintah yang lebih konkret dalam mengatasi problema logistik nasional di Indonesia, terutama untuk menurunkan biaya logistik yang masih tinggi adalah berfokus pada transformasi digital, perbaikan infrastruktur, dan harmonisasi regulasi,” tuturnya.
👁️ 99 kali
Efek MBG dan Kopdes Merah Putih, Sektor Logistik Diramal Tumbuh 8%
2026-02-22
Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memprediksi sektor rantai pasok atau supply chain dan logistik mampu tumbuh hingga 8% pada 2026 di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik serta biaya yang tinggi. Kehadiran program Makan Bergisi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih menjadi sejumlah faktor pendorong pertumbuhan. Ketua ALI Mahendra Rianto mengungkapkan sektor industri rantai pasok dan logistik pada 2026 optimistis akan mengalami pertumbuhan positif, berdasarkan hasil analisis pertumbuhan perekonomian Indonesia serta kebijakan pemerintah yang akan berfokus kepada konsumsi domestik “Skenario yang mungkin terjadi adalah skenario subjektif moderat, yaitu tumbuh mencapai 6%–8%,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip pada Minggu (22/2/2026). Untuk tetap bertahan, perusahaan logistik Indonesia diprediksi akan lebih selektif dalam ekspansi, fokus pada efisiensi biaya, dan diversifikasi pemasok/rute untuk memitigasi risiko global. Mahendra melihat pertumbuhan logistik nasional masih akan ditopang oleh tiga kontributor utama, yakni peran e-commerce, industri pengolahan dan cold chain, serta third party logistics (TPL), terlebih di tengah berbagai tantangan. Meski demikian, dirinya melihat keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mulai berfungsi sebagai hub logistik Indonesia Tengah-Timur, program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih diprediksi turut serta menopang pertumbuhan sektor ini. Dalam laporan Outlook Supply Chain dan Logistik Indonesia 2026 milik ALI, MBG menjadi penggerak ekonomi dan modernisasi supply chain dan logistik pangan. Program ini menuntut ketepatan waktu, mutu, dan keamanan pangan yang membuat forecasting, traceability, dan cold chain sebagai kebutuhan wajib. “Dengan desain SCM [supply chain management] yang tepat, MBG bertransformasi dari beban fiskal menjadi mesin penguatan rantai pasok nasional,” tuturnya. Dari kacamata ALI, Kopdes Merah Putih pun mampu memperpendek rantai pasok, meningkatkan nilai tambah dan daya tawar petani. Meski demikian, ALI masih mengharapkan peran pemerintah yang lebih konkret dalam mengatasi problema logistik nasional di Indonesia, terutama untuk menurunkan biaya logistik yang masih tinggi (sekitar 14,29% dari PDB pada 2023). Menurut Mahendra, pemerintah perlu berfokus pada transformasi digital, perbaikan infrastruktur, dan harmonisasi regulasi. Pada 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lapangan usaha transportasi dan pergudangan tercatat tumbuh 8,78% year on year (YoY). Utamanya karena adanya peningkatan aktivitas pengiriman barang baik domestik maupun luar negeri. Untuk diketahui pula, transportasi dan pergudangan ini termasuk dalam tiga sektor dengan pertumbuhan tertinggi, setelah jasa lainnya (9,93% YoY) dan jasa perusahaan (9,10%).
👁️ 34 kali
